Tiara Novembrina Briliantika

Dari Kreativitas di Media Sosial Menjadi Peluang Karier Digital

SMK PGRI 1 Ngawi kembali memiliki cerita inspiratif dari alumninya. Salah satunya adalah Tiara Novembrina Briliantika, perempuan asal Ngawi yang berhasil mengembangkan kreativitasnya di dunia digital dan menekuni profesi sebagai content creator.

Berawal dari keisengan membuat konten untuk mengisi waktu luang sekaligus menyalurkan ide, Tiara tidak menyangka aktivitas tersebut dapat berkembang menjadi peluang karier. Respons positif dari warganet mendorongnya untuk lebih serius mempelajari dunia content creation.

Sebagai lulusan SMK PGRI 1 Ngawi, Tiara memanfaatkan TikTok dan Instagram sebagai media utama untuk berkarya. Konten yang dibuatnya beragam, mulai dari hiburan, lifestyle, hingga berbagai tren yang sedang berkembang di media sosial.

Berani Memulai, Mau Belajar, dan Konsisten

Perjalanan Tiara dalam membangun karier digital tidak selalu berjalan mulus. Rasa kurang percaya diri dan jumlah penonton yang belum sesuai harapan sempat menjadi tantangan.

Namun, Tiara memilih untuk tidak berhenti. Ia terus belajar memahami karakter audiens, memperbaiki kualitas konten, mengikuti perkembangan tren, serta melakukan evaluasi terhadap setiap karya yang diunggah.

Menurutnya, ide konten dapat datang dari berbagai sumber, mulai dari tren media sosial, pengalaman sehari-hari, komentar penonton, hingga berbagai topik yang sedang ramai diperbincangkan.

“Saya mendapatkan inspirasi dari tren media sosial, pengalaman sehari-hari, komentar penonton, serta topik yang sedang ramai diperbincangkan.”

Ketika mengalami creative block, Tiara tidak memaksakan diri untuk terus menghasilkan konten. Ia memilih mengambil jeda, mencari referensi baru, kemudian kembali berkarya ketika ide dan semangatnya telah muncul.

Baginya, menjaga keseimbangan antara produktivitas dan waktu istirahat merupakan hal penting agar kreativitas tetap terjaga dan terhindar dari kelelahan.

Menjadikan Kritik sebagai Bahan Evaluasi

Interaksi dengan audiens menjadi bagian penting dalam perjalanan Tiara sebagai content creator. Komentar dan respons dari pengikut digunakan untuk melihat bagaimana sebuah konten diterima sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk karya berikutnya.

Tiara juga belajar menghadapi berbagai karakter komentar di media sosial. Ia memilih menerima kritik yang membangun dan tidak terlalu memikirkan komentar yang tidak memberikan manfaat.

“Kritik yang membangun saya jadikan bahan evaluasi. Sedangkan hate comment saya tanggapi dengan tenang atau saya abaikan jika tidak memberikan manfaat.”

Sikap tersebut menunjukkan bahwa membangun karier di dunia digital bukan hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi, menerima masukan, dan menjaga konsistensi.

Kreativitas yang Bernilai Ekonomi

Seiring berkembangnya audiens dan pengalaman, Tiara mulai melihat content creation sebagai peluang ekonomi. Ia mulai mempelajari berbagai bentuk monetisasi, seperti kerja sama dengan brand, program affiliate, hingga monetisasi dari platform digital.

Meski demikian, Tiara tetap selektif dalam memilih peluang kerja sama. Kualitas produk serta kesesuaian dengan karakter audiens menjadi pertimbangan sebelum menerima tawaran komersial.

Hal tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun personal branding yang positif dan berkelanjutan.

Target dan Harapan

Dalam satu hingga dua tahun mendatang, Tiara menargetkan dapat memperluas audiens, memperkuat personal branding, serta membuka lebih banyak peluang kolaborasi dengan berbagai brand.

Kisah Tiara menjadi gambaran bahwa perkembangan teknologi dan media sosial dapat membuka ruang baru bagi generasi muda untuk berkarya dan membangun masa depan.

Bagi anak muda yang ingin mengikuti jejaknya, Tiara memiliki pesan sederhana: jangan menunggu semuanya sempurna untuk memulai.

Keberanian untuk mencoba, konsistensi dalam berkarya, dan kemauan untuk terus belajar merupakan modal penting untuk berkembang.

“Semoga kita bisa terus tumbuh dan berkembang bersama.”

PESAN UNTUK GENERASI MUDA

“Mulailah dari apa yang kamu punya, kembangkan apa yang kamu bisa, dan jangan takut untuk terus belajar. Kesempatan bisa datang dari hal sederhana yang awalnya hanya kita lakukan karena iseng.”


Tiara Novembrina Briliantika
Alumni SMK PGRI 1 Ngawi
Content Creator | Digital Creative | Personal Branding

NGAWI — Penguatan kolaborasi antara dunia pendidikan, dunia industri, dan pemerintah daerah menjadi salah satu isu penting dalam menyiapkan lulusan SMK yang kompeten dan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Isu tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam kegiatan Talkshow Penguatan Pendidikan Vokasi dan Kemitraan Industri yang dilaksanakan di SMK PGRI 1 Ngawi, Rabu, 13 Mei 2026.

Mengusung semangat Triple Match, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan tiga kepentingan utama, yaitu SMK sebagai penyedia sumber daya manusia, dunia industri sebagai pengguna tenaga kerja, dan pemerintah daerah sebagai penghubung sekaligus pembangun ekosistem ketenagakerjaan.

Konsep Triple Match menjadi semakin relevan seiring dengan berkembangnya investasi dan industri di Kabupaten Ngawi. Pertumbuhan industri membuka peluang kerja baru, namun pada saat yang sama menuntut dunia pendidikan untuk mampu menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.

Dalam forum tersebut, penguatan hubungan SMK dengan industri tidak hanya dipandang dalam konteks penyerapan lulusan. Kolaborasi perlu dibangun sejak proses pembentukan kompetensi melalui sinkronisasi kurikulum, Praktik Kerja Lapangan (PKL), guru tamu industri, teaching factory, sertifikasi kompetensi, hingga rekrutmen lulusan oleh perusahaan.

Industri Tidak Hanya Menunggu Lulusan

Salah satu tantangan pendidikan vokasi adalah masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Industri membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki disiplin, komunikasi, etika kerja, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman kerja nyata.

Karena itu, keterlibatan industri perlu dilakukan sejak siswa masih berada di bangku sekolah. Melalui PKL, sinkronisasi kurikulum, guru tamu, sertifikasi dan berbagai bentuk kemitraan lainnya, industri dapat ikut membentuk kompetensi calon tenaga kerja sekaligus membangun talent pool sesuai kebutuhan perusahaan.

Pemda Menjadi Penghubung

Dalam konsep Triple Match, pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk memastikan pertumbuhan investasi diikuti dengan peningkatan kualitas dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Pemda dapat memfasilitasi komunikasi antara sekolah dan industri, memetakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan industri yang berkembang, memperkuat program PKL, mendorong pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta memperkuat konektivitas BKK dengan perusahaan.

Dengan demikian, keberhasilan pendidikan vokasi tidak lagi cukup diukur dari jumlah siswa yang lulus. Indikator yang lebih penting adalah seberapa banyak lulusan yang terserap kerja, seberapa cepat mendapatkan pekerjaan, dan seberapa relevan kompetensi mereka dengan kebutuhan industri.

Kegiatan di SMK PGRI 1 Ngawi tersebut menjadi momentum untuk mendorong terwujudnya kolaborasi yang lebih konkret antara SMK, industri, dan pemerintah daerah.

Triple Match bukan sekadar konsep, tetapi harus menjadi gerakan bersama agar pertumbuhan industri di Ngawi mampu membuka peluang nyata bagi lulusan SMK dan tenaga kerja lokal.