Dari Ngawi Menuju Jepang, Menyiapkan Generasi Vokasi untuk Dunia

NGAWI – SMK PGRI 1 Ngawi terus memperkuat komitmennya dalam membangun pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja, termasuk membuka peluang karier bagi peserta didik di tingkat internasional. Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui Kelas Industri PT JIAEC, sebuah program persiapan dan penyaluran kerja ke Jepang yang kini telah memasuki angkatan kedua.

Kelas Industri PT JIAEC dirancang bagi peserta didik yang memiliki minat, motivasi, dan orientasi karier untuk bekerja di Jepang. Program ini tidak hanya berfokus pada penguasaan Bahasa Jepang, tetapi juga memberikan pembekalan yang mencakup kesiapan mental, kedisiplinan, pemahaman budaya Jepang, etos kerja, serta kompetensi pendukung yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja internasional.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya SMK PGRI 1 Ngawi dalam memperkuat link and match internasional, dengan mempertemukan proses pendidikan di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja serta membuka akses karier yang lebih luas bagi lulusan.

Kolaborasi Sekolah, Industri, dan Perguruan Tinggi

Kekuatan Kelas Industri PT JIAEC terletak pada kolaborasi antara SMK PGRI 1 Ngawi, PT JIAEC, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan guru Bahasa Jepang SMK PGRI 1 Ngawi.

Kolaborasi dengan UNESA semakin diperkuat melalui pelaksanaan PPL Bahasa Jepang di SMK PGRI 1 Ngawi. Pada periode Agustus hingga Desember 2026, mahasiswa PPL Bahasa Jepang UNESA terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran dan pendampingan peserta didik.

Kehadiran mahasiswa PPL memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan kontekstual. Peserta didik memperoleh kesempatan untuk berlatih Bahasa Jepang, berkomunikasi, serta mengenal pembelajaran dari mahasiswa yang memiliki latar belakang akademik di bidang Bahasa Jepang.

Bagi mahasiswa UNESA, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengimplementasikan pengetahuan dan kompetensi yang diperoleh di perguruan tinggi ke dalam praktik pembelajaran secara langsung di lingkungan pendidikan vokasi.

Sinergi antara sekolah, perguruan tinggi, dan dunia industri ini menjadi bentuk nyata penguatan ekosistem pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik dan perkembangan dunia kerja global.

Pembelajaran Kokurikuler Berorientasi Karier

Kelas Industri PT JIAEC dilaksanakan melalui program kokurikuler sebagai bentuk penguatan kompetensi peserta didik tanpa mengesampingkan proses pendidikan utama di sekolah.

Program diawali dengan proses perekrutan dan seleksi peserta didik yang mempertimbangkan minat, motivasi, kesiapan, serta komitmen untuk mengikuti seluruh tahapan persiapan kerja ke Jepang.

Selanjutnya, peserta mendapatkan pembelajaran dan pendampingan secara bertahap, mulai dari kemampuan Bahasa Jepang, pemahaman budaya, kedisiplinan, hingga kesiapan menghadapi lingkungan kerja di Jepang.

Setelah memenuhi kompetensi dan persyaratan yang ditentukan, proses persiapan dan penyaluran kerja ke Jepang dilakukan melalui PT JIAEC sebagai mitra program.

Dengan pola tersebut, peserta didik tidak hanya mendapatkan tambahan kompetensi, tetapi juga mulai membangun career planning sejak masih berada di bangku sekolah.

23 Lulusan Angkatan Pertama Menuju Jepang

Perjalanan Kelas Industri PT JIAEC menunjukkan capaian yang positif. Pada angkatan pertama, sebanyak 23 peserta didik berhasil menyelesaikan rangkaian pembelajaran dan persiapan kerja.

Saat ini, para lulusan angkatan pertama tersebut sedang menjalani proses pemberangkatan untuk bekerja di Jepang.

Capaian ini menjadi motivasi sekaligus bukti bahwa kolaborasi antara sekolah, dunia industri, perguruan tinggi, dan lembaga terkait dapat menciptakan jalur pengembangan karier yang lebih konkret bagi peserta didik SMK.

Keberhasilan angkatan pertama juga menjadi inspirasi bagi peserta angkatan kedua untuk mengikuti proses pembelajaran secara serius dan mempersiapkan diri sejak dini menuju dunia kerja internasional.

Bukan Sekadar Belajar Bahasa Jepang

Bagi SMK PGRI 1 Ngawi, Kelas Industri PT JIAEC bukan sekadar program pembelajaran Bahasa Jepang. Lebih dari itu, program ini merupakan bagian dari strategi sekolah dalam membangun pendidikan vokasi yang terhubung dengan dunia kerja dan berorientasi pada masa depan peserta didik.

Peserta didik dipersiapkan agar memiliki kemampuan berkomunikasi, karakter kerja, kedisiplinan, kesiapan mental, serta wawasan budaya yang dibutuhkan untuk hidup dan bekerja di lingkungan internasional.

Hal tersebut sejalan dengan semangat pendidikan vokasi yang tidak hanya berorientasi pada kelulusan, tetapi juga pada kompetensi, kemandirian, dan keberlanjutan karier lulusan.

Menuju Generasi Vokasi Berwawasan Global

Melalui Kelas Industri PT JIAEC, SMK PGRI 1 Ngawi terus mendorong lahirnya lulusan yang:

Berkompeten – Berkarakter – Berwawasan Global – Siap Kerja.

Kolaborasi dengan PT JIAEC serta UNESA melalui PPL Bahasa Jepang pada Agustus–Desember 2026 menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Dari ruang kelas di Ngawi, peserta didik dipersiapkan untuk berani bermimpi lebih jauh, memiliki kompetensi yang sesuai, serta mampu mengambil peluang di tingkat internasional.

Bagi SMK PGRI 1 Ngawi, pendidikan vokasi bukan hanya tentang siap lulus, tetapi juga tentang siap melangkah menuju masa depan.

“Dari Ngawi Menuju Jepang, Menyiapkan Generasi Vokasi untuk Dunia.”

SMK PGRI 1 Ngawi
Kompeten • Berkarakter • Berwawasan Global • Siap Kerja


Penulis: MH
Redaksi: LP

Tiara Novembrina Briliantika

Dari Kreativitas di Media Sosial Menjadi Peluang Karier Digital

SMK PGRI 1 Ngawi kembali memiliki cerita inspiratif dari alumninya. Salah satunya adalah Tiara Novembrina Briliantika, perempuan asal Ngawi yang berhasil mengembangkan kreativitasnya di dunia digital dan menekuni profesi sebagai content creator.

Berawal dari keisengan membuat konten untuk mengisi waktu luang sekaligus menyalurkan ide, Tiara tidak menyangka aktivitas tersebut dapat berkembang menjadi peluang karier. Respons positif dari warganet mendorongnya untuk lebih serius mempelajari dunia content creation.

Sebagai lulusan SMK PGRI 1 Ngawi, Tiara memanfaatkan TikTok dan Instagram sebagai media utama untuk berkarya. Konten yang dibuatnya beragam, mulai dari hiburan, lifestyle, hingga berbagai tren yang sedang berkembang di media sosial.

Berani Memulai, Mau Belajar, dan Konsisten

Perjalanan Tiara dalam membangun karier digital tidak selalu berjalan mulus. Rasa kurang percaya diri dan jumlah penonton yang belum sesuai harapan sempat menjadi tantangan.

Namun, Tiara memilih untuk tidak berhenti. Ia terus belajar memahami karakter audiens, memperbaiki kualitas konten, mengikuti perkembangan tren, serta melakukan evaluasi terhadap setiap karya yang diunggah.

Menurutnya, ide konten dapat datang dari berbagai sumber, mulai dari tren media sosial, pengalaman sehari-hari, komentar penonton, hingga berbagai topik yang sedang ramai diperbincangkan.

“Saya mendapatkan inspirasi dari tren media sosial, pengalaman sehari-hari, komentar penonton, serta topik yang sedang ramai diperbincangkan.”

Ketika mengalami creative block, Tiara tidak memaksakan diri untuk terus menghasilkan konten. Ia memilih mengambil jeda, mencari referensi baru, kemudian kembali berkarya ketika ide dan semangatnya telah muncul.

Baginya, menjaga keseimbangan antara produktivitas dan waktu istirahat merupakan hal penting agar kreativitas tetap terjaga dan terhindar dari kelelahan.

Menjadikan Kritik sebagai Bahan Evaluasi

Interaksi dengan audiens menjadi bagian penting dalam perjalanan Tiara sebagai content creator. Komentar dan respons dari pengikut digunakan untuk melihat bagaimana sebuah konten diterima sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk karya berikutnya.

Tiara juga belajar menghadapi berbagai karakter komentar di media sosial. Ia memilih menerima kritik yang membangun dan tidak terlalu memikirkan komentar yang tidak memberikan manfaat.

“Kritik yang membangun saya jadikan bahan evaluasi. Sedangkan hate comment saya tanggapi dengan tenang atau saya abaikan jika tidak memberikan manfaat.”

Sikap tersebut menunjukkan bahwa membangun karier di dunia digital bukan hanya membutuhkan kreativitas, tetapi juga kemampuan untuk beradaptasi, menerima masukan, dan menjaga konsistensi.

Kreativitas yang Bernilai Ekonomi

Seiring berkembangnya audiens dan pengalaman, Tiara mulai melihat content creation sebagai peluang ekonomi. Ia mulai mempelajari berbagai bentuk monetisasi, seperti kerja sama dengan brand, program affiliate, hingga monetisasi dari platform digital.

Meski demikian, Tiara tetap selektif dalam memilih peluang kerja sama. Kualitas produk serta kesesuaian dengan karakter audiens menjadi pertimbangan sebelum menerima tawaran komersial.

Hal tersebut menjadi bagian dari upayanya membangun personal branding yang positif dan berkelanjutan.

Target dan Harapan

Dalam satu hingga dua tahun mendatang, Tiara menargetkan dapat memperluas audiens, memperkuat personal branding, serta membuka lebih banyak peluang kolaborasi dengan berbagai brand.

Kisah Tiara menjadi gambaran bahwa perkembangan teknologi dan media sosial dapat membuka ruang baru bagi generasi muda untuk berkarya dan membangun masa depan.

Bagi anak muda yang ingin mengikuti jejaknya, Tiara memiliki pesan sederhana: jangan menunggu semuanya sempurna untuk memulai.

Keberanian untuk mencoba, konsistensi dalam berkarya, dan kemauan untuk terus belajar merupakan modal penting untuk berkembang.

“Semoga kita bisa terus tumbuh dan berkembang bersama.”

PESAN UNTUK GENERASI MUDA

“Mulailah dari apa yang kamu punya, kembangkan apa yang kamu bisa, dan jangan takut untuk terus belajar. Kesempatan bisa datang dari hal sederhana yang awalnya hanya kita lakukan karena iseng.”


Tiara Novembrina Briliantika
Alumni SMK PGRI 1 Ngawi
Content Creator | Digital Creative | Personal Branding

NGAWI — Penguatan kolaborasi antara dunia pendidikan, dunia industri, dan pemerintah daerah menjadi salah satu isu penting dalam menyiapkan lulusan SMK yang kompeten dan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Isu tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam kegiatan Talkshow Penguatan Pendidikan Vokasi dan Kemitraan Industri yang dilaksanakan di SMK PGRI 1 Ngawi, Rabu, 13 Mei 2026.

Mengusung semangat Triple Match, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan tiga kepentingan utama, yaitu SMK sebagai penyedia sumber daya manusia, dunia industri sebagai pengguna tenaga kerja, dan pemerintah daerah sebagai penghubung sekaligus pembangun ekosistem ketenagakerjaan.

Konsep Triple Match menjadi semakin relevan seiring dengan berkembangnya investasi dan industri di Kabupaten Ngawi. Pertumbuhan industri membuka peluang kerja baru, namun pada saat yang sama menuntut dunia pendidikan untuk mampu menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang benar-benar sesuai kebutuhan lapangan.

Dalam forum tersebut, penguatan hubungan SMK dengan industri tidak hanya dipandang dalam konteks penyerapan lulusan. Kolaborasi perlu dibangun sejak proses pembentukan kompetensi melalui sinkronisasi kurikulum, Praktik Kerja Lapangan (PKL), guru tamu industri, teaching factory, sertifikasi kompetensi, hingga rekrutmen lulusan oleh perusahaan.

Industri Tidak Hanya Menunggu Lulusan

Salah satu tantangan pendidikan vokasi adalah masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Industri membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki disiplin, komunikasi, etika kerja, kemampuan beradaptasi, serta pengalaman kerja nyata.

Karena itu, keterlibatan industri perlu dilakukan sejak siswa masih berada di bangku sekolah. Melalui PKL, sinkronisasi kurikulum, guru tamu, sertifikasi dan berbagai bentuk kemitraan lainnya, industri dapat ikut membentuk kompetensi calon tenaga kerja sekaligus membangun talent pool sesuai kebutuhan perusahaan.

Pemda Menjadi Penghubung

Dalam konsep Triple Match, pemerintah daerah memiliki peran strategis untuk memastikan pertumbuhan investasi diikuti dengan peningkatan kualitas dan penyerapan tenaga kerja lokal.

Pemda dapat memfasilitasi komunikasi antara sekolah dan industri, memetakan kebutuhan tenaga kerja berdasarkan industri yang berkembang, memperkuat program PKL, mendorong pelatihan berbasis kebutuhan industri, serta memperkuat konektivitas BKK dengan perusahaan.

Dengan demikian, keberhasilan pendidikan vokasi tidak lagi cukup diukur dari jumlah siswa yang lulus. Indikator yang lebih penting adalah seberapa banyak lulusan yang terserap kerja, seberapa cepat mendapatkan pekerjaan, dan seberapa relevan kompetensi mereka dengan kebutuhan industri.

Kegiatan di SMK PGRI 1 Ngawi tersebut menjadi momentum untuk mendorong terwujudnya kolaborasi yang lebih konkret antara SMK, industri, dan pemerintah daerah.

Triple Match bukan sekadar konsep, tetapi harus menjadi gerakan bersama agar pertumbuhan industri di Ngawi mampu membuka peluang nyata bagi lulusan SMK dan tenaga kerja lokal.

Kombes Pol. Suryono, S.H., S.I.K., M.H.: Dari Bangku STM/SMK PGRI Ngawi untuk Mengabdi kepada Negeri

NGAWI – Setiap alumni memiliki cerita perjalanan masing-masing. Ada yang meniti karier di dunia industri, menjadi wirausahawan, melanjutkan pendidikan, hingga mengabdi kepada masyarakat dan negara.

Salah satu kisah yang membanggakan datang dari Kombes Pol. Suryono, S.H., S.I.K., M.H., alumni STM/SMK PGRI 1 Ngawi Angkatan 1995, yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sulawesi Tengah.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan yang diperoleh dari bangku sekolah kejuruan dapat menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan.

Berawal dari STM/SMK PGRI 1 Ngawi

Suryono merupakan lulusan STM/SMK PGRI 1 Ngawi jurusan Teknik Mesin tahun 1995. Perjalanannya semasa sekolah menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter dan semangatnya untuk meraih masa depan.

Salah satu sumber profil tentang perjalanan hidupnya menyebutkan bahwa Suryono berhasil menyelesaikan pendidikan di STM/SMK PGRI 1 Ngawi dengan peringkat pertama pada tahun 1995.

Setelah menyelesaikan pendidikan, perjalanan hidupnya tidak serta-merta berjalan mudah. Ia sempat merantau ke Kalimantan Selatan untuk mencari pekerjaan. Dari pengalaman tersebut, perjalanan Suryono kemudian berkembang hingga membawanya memasuki dunia Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Menapaki Karier dan Pengabdian

Dedikasi, kedisiplinan, serta kemauan untuk terus belajar mengantarkan Suryono menapaki berbagai jenjang karier di lingkungan Polri.

Ia pernah dipercaya mengemban sejumlah tugas dan jabatan strategis, di antaranya Kapolres Madiun Kota, Kapolres Tuban, Wadirreskrimum Polda Jawa Timur, hingga Kapolresta Gorontalo Kota.

Perjalanan tersebut terus berlanjut. Pada 2026, Suryono mendapat amanah sebagai Dirreskrimum Polda Sulawesi Tengah. Keluarga besar SMK PGRI 1 Ngawi turut menyampaikan ucapan selamat atas amanah baru tersebut.

Alumni yang Tetap Terhubung dengan Almamater

Tidak hanya menjadi alumni yang sukses dalam perjalanan karier, Suryono juga memiliki perhatian terhadap keberadaan dan perkembangan almamater.

Dalam publikasi resmi SMK PGRI 1 Ngawi, Suryono tercatat sebagai Ketua Ikatan Alumni STM/SMK PGRI 1 Ngawi. Hal ini menjadi bentuk keterikatan dan kepedulian terhadap keluarga besar almamater.

Kebersamaan alumni juga terlihat dalam kegiatan Silaturahmi Alumni 1995 STM/SMK PGRI 1 Ngawi yang dilaksanakan di Aula Samsir Mihardjo SMK PGRI 1 Ngawi pada Februari 2023.

Hubungan yang tetap terjalin antara alumni dan sekolah menjadi modal berharga dalam membangun jejaring, berbagi pengalaman, serta memberikan inspirasi kepada generasi penerus.

Menjadi Inspirasi bagi Siswa

Kisah Kombes Pol. Suryono memberikan pesan penting bagi siswa STM/SMK PGRI 1 Ngawi bahwa masa depan tidak selalu dapat diprediksi dari keadaan seseorang ketika masih duduk di bangku sekolah.

Yang terpenting adalah keberanian untuk bermimpi, kemauan untuk belajar, disiplin dalam menjalani proses, serta konsisten dalam mengejar tujuan.

Perjalanan Suryono dari STM/SMK PGRI 1 Ngawi Angkatan 1995 hingga dipercaya mengemban amanah di tingkat Polda menjadi salah satu contoh nyata bahwa alumni SMK mampu berkembang dan mengambil peran penting dalam berbagai bidang pengabdian.

Bagi almamater, keberhasilan alumni bukan sekadar sebuah pencapaian pribadi. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan sekolah sekaligus inspirasi bagi siswa-siswi STM/SMK PGRI 1 Ngawi untuk berani menentukan masa depan dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dari Ngawi untuk Indonesia

Kisah Kombes Pol. Suryono menjadi bagian dari perjalanan panjang keluarga besar STM/SMK PGRI 1 Ngawi dalam melahirkan generasi yang memiliki kompetensi, karakter, disiplin, dan semangat pengabdian.

Dari bangku STM/SMK PGRI 1 Ngawi, ia menapaki perjalanan panjang hingga dipercaya menjalankan tugas penting dalam institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dari almamater, tumbuh menjadi pribadi yang mengabdi.
Dari Ngawi, melangkah untuk negeri.


PROFIL SINGKAT

Nama: Kombes Pol. Suryono, S.H., S.I.K., M.H.
Alumni: STM/SMK PGRI 1 Ngawi
Angkatan: 1995
Jurusan: Teknik Mesin
Jabatan: Dirreskrimum Polda Sulawesi Tengah
Alumni: Ketua Ikatan Alumni SMK PGRI 1 Ngawi

SMK PGRI 1 NGAWI
STUDY HARD – WORK SMART

Wajah sumringah terpancar dari 25 orangtua siswa maupun alumni SMK PGRI 1 Ngawi yang kini tengah menjalani magang kerja pada sebuah perusahaan ternama di Karawang Jawa Barat.
Setelah para orangtua menerima uang senilai satu juta rupiah yang berasal dari sebagian gaji yang diterima dari tempatnya bekerja. Besaran gaji yang mereka terima berkisar Rp 3,9 hingga Rp 4 juta rupiah per bulan. 

Kepala SMK PGRI 1 Ngawi, Farid Samsul Hadi, S.Pd, M.Pd menyampaikan pihak sekolah telah melaksanakan program magang kerja, baik siswa maupun alumni sekolah. Program tersebut telah berjalan lama dan telah menghasilkan hasil yang bagus. 

“Sekolah laksanakan program magang kerja. Diharapkan uang yang diberikan kepada orangtua bisa melatih pendidikan karakter anak. Mereka tahu kebutuhan orangtuanya, sehingga uang hasil kerja magang tidak habis dipakai sendiri. Sebagai bentuk empati orangtua,” jelas Farid kepada Jatim Times usai secara simbolis uang tunai kepada orangtua siswa maupun alumni. 

Ketua PGRI Kabupaten Ngawi, Ismono yang turut hadir dalam acara uang tunai kepada orangtua siswa maupun alumni SMK PGRI 1 Ngawi juga berharap kedepannya kemampuan siswa lebih dapat dikembangkan, baik kemampuan dan keahliannya. Tidak hanya pada sasaran pencarian nilai kerja, namun juga pada sisi akademik. 

“Momentum ini sangat baik. Sekolah langsung menunjukkan pada orangtua atas prestasi yang diraih anak didiknya. Inilah yang harus dijaga. Dalam mengembangkan bakat siswa, minimal wali murid harus diberitahu,” terang Ismono dengan optimis.

Sementara para orangtua siswa maupun alumni SMK PGRI 1 Ngawi yang datang dalam acara mengaku gembira atas prestasi sekolah. Luar biasa dalam melaksanakan kerja sudah menghasilkan pundi-pundi rupiah.

“Alhamdulillah senang sekali. Uang akan kami simpan untuk masa depan anak saya. Setiap bulannya juga sudah mengirim uang untuk membantu kebutuhan orangtua,” ungkap Ngadiyem orangtua salah satu siswa.

Pada hari ini Senin 13 Juni 2022 bertempat di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Bapak Farid Samsul Hadi, S.Pd, M.Pd Kepala Sekolah SMKPGRI1Ngawi beserta rombongan bertemu bapak kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bertemu perihal penandatangana MoU untuk menjadi Piloting Project SMK rujukan aliansi BCA . Nantinya Program BCA aliansi ini SMKPGRI1Ngawi akan menjadi rujukan untuk sekolah SMK di sekitarnya yakni sekolah di Kab.Ngawi dan sekitarnya se karisidenan madiun, ending dari program ini nantinya para siswa akan di training Offline dan Online untuk pemberangkatan Magang kerja di BCA Cash Management Academy penempatan di seluruh indonesia, Turut hadir pada acara tersebut bapak Timmy Theopelus, ST, MCSE Direktur Axioo Class Program sekaligus perwakilan dari BCA CMA.